Monday, October 19, 2020

 

Alamat Blog :

 
IDENTIFIKASI WUJUD WACANA PADA MEDIA TULIS DAN AUDIO VISUAL

AINUN FADILAH

51706130001

Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Universitas Islam Majapahit

Berikut akan disajikan beberapa identifikasi wujud wacana pada beberapa media informasi maupun media keilmuan atau pendidikan yaitu seperti artikel, opini, pidato, berita, film, novel dan cerpen (cerita pendek). Penjelasannya dapat dilihat di bawah ini:

A.    Identifikasi Wujud Wacana pada Artikel

Sebelum mengidentifikasi sebuah artikel sebaiknya kita terlebih dahulu mengetahui apa itu artikel. Menurut Sumadiria artikel adalah tulisan lepas berasal dari seseorang yang mengupas secara tuntas suatu masalah tertentu yang sifatnya aktual atau kontroversial dengan tujuan untuk memberitahu (informasi), mempengaruhi dan meyakinkan (persuasif argumentatif), atau mnghibur khalayak pembaca (rekreatif) (Sumadiria, 2007).  Secara uum artikel juga apat dibedakan menjadi artikel praktis, artikel ringan, artikel halaman opini, dan artikel analisis ahli (Triandy, 2017).

Selanjutnya akan dijabarkan dan dijelaskan bagaimana cara mengidentifikasi wujud wacana artikel “Artikel-Artikel di Media Seword.com” ditinjau dari aspek bahasa, yang bersumber dari diksi dan kalimat pada artikel-artikel di media daring seword.com:

1.      Artikel dengan judul “Bersama PKS dan Gerindra Jokowi Bebas dari Isu PKI”

“Isu Jokowi PKI sangat kuat dikala Jokowi – Kalla menjadi calon presiden dan wakil presidn yang diusung oleh partai PDIP, Nasdem, PKB, Hanura yag kala itu melawan Prabowo-Hatta yang diusung oleh Gerindra, PKS, PAN, PPP, PBB, dan Golkar. Dipilpres ini isu bahwa Jokowi PKI dan keturunan Cina dipakai untuk menggoyahkan beliau selain itu PDIP juga diserang sebagai julukan partai PKI. Mungkin mereka yang menyerang dengan memakai isu itu tidak paham bahwa PDIP adalah metamorfosis PNI yang dahulu adalah musuh bebuyutan dari PKI”.

Pada kalimat-kalimat diatas menggunakan diksi secara detail dan menjelaskan fakta yang menggiring pembaca untuk menyetujui bahwa isu kebangkitan PKI dibuat dan dimobilisasi oleh partai oposisi pemerintah yang tak lain adalah Gerindra dan PKS.

2.      Artikel dengan judul “Si Kunyuk Di Balik Isu PKI, Membongkar Alasan dan Motivasinya”.

“Zaman berganti, namun si Kunyuk seerti yang diceritakan Gusdur sepertinya masih ada hingga saat ini. Yang terus menoba membuat kerusuhan, membangun narasi provokatif, menakut-nakuti dan sebagainya. Materi andalan si Kunyuk adalah PKI. Konsisten sejak 2014. Padahal kalau ditanya dimana ada PKI? Tak ada yang bisa menjawabnya”.

Kalimat-kalimat tersebut mengandung diksi teka-teki ini terus enerus mempertanyakan dalang yang diduga ebagai penyebar isu PKI tersebut. Diksi yang juga cukup hiperbolis dengan mempresentasikan keadaan setelah munculnya isu kebangkitan PKI di Indonesia.

3.      Artikel dengan judul “Taktik Gerindra-PKS Mobilisasi Isu PKI Sudah Terbaca, Akankah Ganti Taktik?”

“Nah, sekarang sudah jelas siapa yang paling berpeluang menjadi dalang dibalik viralnya isu kemunculan PKI. Tokoh-tokoh yang gembar-gembor soal kebangkitan PKI adalah pendukung Gerindra dan PKS, diantaranya Arif Poyuono, Kivlan Zein dan Alfian Tanjung”.

Diksi-diksi yang digunakan dalam kalimat-kalimat tersebut digunakan seolah mempertegas siapa yang menjadi penggerak kembalinya muncul isu PKI yang sedang marak diperbincangkan dikalangan masyarakat saat ini.

Melalui diksi dan kalimat-kalimat yang digunakan pada artikel-artikel diatas, terbukti bahwa situs seword.com seringkali menyudutkan pihak Prabowo dan Gerindra sebagai pihak yang dianggap sebagai dalang yang memobilisasi isu kebangkitan PKI yang dialamatkan kepadanya. Menurut pandangan Roger Fowler dkk, bahasa sebagai sistem klasifikasi yang menggambarkan realitas dunia dilihat, memberi kemungkinan untuk seseorang atau kelompok tertentu mengontrol serta mengatur pengalaman realitas sosial. Tetapi, sistem klasifikasi antara seseorang, satu kelompok dengan klompok lain akan berbeda. Hl tersebut dapat terlihat dari pengalaman budaya, sosial, dan politik yang dimilikinya (Eriyanto, 2011).

B.     Identifikasi Wujud Wacana pada Opini

Sekarang ini, para linguis berusaha memasukkan wacana sebagai salah satu tataran bahasa dengan alasan bahwa komunikasi biasanya dilakukan dengan rentetan kalimat-kalimat. Rentetan kalimat yang kohesif dan koheren disebut wacana. Istilah wacana merupakan istilah yang muncul sekitar tahun 1970-an di Indonesia (dari bahasa Inggris discourse). Wacana memuat rentetan kalimat yang berhubungan, menghubungkan proposisi yang satu dengan proposisi yang lainnya, membentuk satu kesatuan informasi. Proposisi adalah konfigurasi makna yang menjelaskan isi komunikasi (dari pembicaraan), atau proposisi adalah isi.

Bahasa digunakan oleh manusia untuk berkomunikasi antar sesamanya. Melalui kegiatan komunikasi pikiran, gagasan, maupun perasaan seseorang dapat tersampaikan kepada orang lain. Bahasa diungkapkan dalam dua bentuk, yaitu bentuk bahasa lisan dan bentuk bahasa tulisan. Bahasa lisan lebih ekspresif, sedangkan bahasa tulisan lebih didukung tata bahasa yang digunakan dalam menuliskan ide sehingga maknanya diterima pembaca dengan tepat. Penggunaan unsur tata bahasa yang tepat akan membentuk wacana yang utuh dan padu.

Surat kabar berfungsi sebagai media cetak yang menjadi satu di antara sarana masyarakat untuk memperoleh informasi. Selain itu, surat kabar juga memuat tulisan-tulisan dari masyarakat umum. Kolom opini dalam surat kabar memang diperuntukkan bagi kalangan masyarakat. Penulis opini akan menuliskan pandangannya mengenai persoalan tertentu dengan gaya masing-masing. Dari situ dapat terlihat kecenderungan penggunaan bahasa yang digunakan penulis.

Penyusunan wacana tidak hanya disusun berdasarkan “rumus 5 W + 1 H”, yaitu apa (what), di mana (where), kapan (when), siapa (who), mengapa (why), bagaimana (how), dan “bentuk piramida terbalik” yang mengutamakan perkenalan, konflik, hingga peleraian. Namun, penulis harus memperhatikan kohesi dan koherensi penulisan. Keterpaduan (koherensi) dan keterkaitan (kohesi) diperlukan agar wacana menjadi kohesif dan koheren (Rahmatu).

Kompas adalah surat kabar Indonesia yang berkantor pusat di Jakarta. Terdapat banyak kolom rubrik di dalam surat kabar Kompas salah satunya rubrik opini. Rubrik opini menjadi hal yang menarik untuk diteliti karena sebagian besar bahasa yang digunakan bersifat objektif dan subjektif. Oleh karena itu, pemilihan kata yang dilakukan penulis dalam wacana opini mempunyai karakter atau pola pikir masing-masing berdasarkan pengalaman yang dimilikinya.

1.      Makna Denotatif

Suwandi (2008: 80) menyatakan bahwa makna denotatif (denotative meaning) adalah makna kata yang didasarkan atas penunjukkan yang lugas, polos, dan apa adanya. Makna denotatif didasarkan pada penunjukkan yang lugas pada sesuatu di luar bahasa atau yang didasarkan atas kovensi tertentu.

Berikut ini deskripsi makna denotatif pada rubrik opini harian Kompas edisi Maret 2017.

a.       Konteks Kunjungan Raja Salman oleh Lalu Muhammad Iqbal 01/03/2017.

Ini adalah babak baru dalam hubungan bilateral Indonesia-Arab Saudi setelah kunjungan terakhir Raja Arab Saudi 47 tahun lalu.

Pada kalimat di atas mengandung makna denotatif. Kata babak dalam arti sebenarnya menerangkan bahwa kalimat di atas bermakna denotatif. Kata babak memiliki makna (1) bagian besar dalam drama atau lakon (terdiri atas beberapa adegan); (2) bagian dari suatu keseluruhan proses, kejadian atau peristiwa (KBBI, 2014: 108). Kata babak dalam konteks kalimat di atas yakni suatu proses atau peristiwa baru dalam hubungan bilateral Indonesia-Arab Saudi setelah kunjungan terakhir Raja Arab Saudi 47 tahun lalu. Sehingga dilihat dari konteks kalimatnya sesuai dengan makna sebenarnya atau kenyataannya.

b.      Gerakan Murka dalam Demokrasi oleh F Budi Hardiman 02/03/ 2017.

Populisme bimbang antara demokrasi perwakilan dan demokrasi plebisit.

Pada kalimat di atas mengandung makna denotatif. Kata bimbang dalam arti sebenarnya menerangkan bahwa kalimat di atas bermakna denotatif. Bimbang memiliki makna (1) (merasa) tidak tetap hati (kurang percaya); ragu-ragu; (2) (merasa) khawatir; cemas (KBBI, 2014: 193). Kata bimbang dalam konteks kalimat di atas sesuai dengan nomor (1), hal ini sesuai dengan kenyataannya bahwa populisme ragu-ragu menentukan pilihan antara demokrasi perwakilan dan demokrasi plebisit.

c.       Gerakan Murka dalam Demokrasi oleh F Budi Hardiman 02/03/ 2017.

Ada alasan yang perlu diperhitungkan mengapa populisme menerjang prosedur.

Pada kalimat di atas mengandung makna denotatif. Kata menerjang dalam arti sebenarnya menerangkan bahwa kalimat di atas bermakna denotatif. Kata menerjang memiliki makna (1) menendang; menyepak (ke bawah atau kedepan); (2) menyerang; menyerbu; (3) melanggar; menubruk; menyeruduk; (4) melewati arus (KBBI, 2014: 1452). Kata Menerjang pada konteks kalimat di atas sesuai dengan nomor (3), melanggar prosedur. Sehingga dilihat dari konteks kalimatnya sesuai dengan makna sebenarnya.

2.      Makna Konotatif

Menurut Chaer (2012: 292) makna konotatif adalah makna lain yang “ditambahkan” pada makna denotatif yang berhubungan dengan nilai rasa dari orang atau kelompok orang yang menggunakan kata tersebut. Jadi dapat disimpulkan bahwa makna konotatif merupakan makna yang muncul akibat dari perasaan atau pikiran seseorang terhadap apa yang dicapkan maupun yang didengar.

Berikut ini deskripsi makna konotatif yang terdapat pada rubrik opini harian Kompas edisi Maret 2017.

a.       Konteks Kunjungan Raja Salman oleh Lalu Muhammad 01/03/ 2017.

Presiden Bush bahkan menyebut Iran bagian dari “persekutuan iblis” (axis of evil).

Pada kalimat di atas mengandung makna konotatif. Makna konotatif ditunjukkan oleh frasa persekutuan iblis. Persekutuan iblis dalam konteks kalimat tersebut berarti orang-orang jahat yang memiliki kepentingan sama. Namun dalam makna sebenarnya berarti persatuan makhluk halus yang selalu berupaya menyesatkan manusia. Sehingga kalimat tersebut bermakna konotatif.

b.      Gerakan Murka dalam Demokrasi oleh F Budi Hardiman 02/03/ 2017.

Para pemimpin mereka membakar emosi massa dengan ujaran-ujaran kebencian kepada para imigran, minoritas, bahkan kepada otoritas yang sah.

Pada kalimat di atas mengandung makna konotatif. Makna konotatif pada konteks kalimat tersebut ditunjukkan oleh frasa membakar emosi. Membakar emosi pada konteks kalimat di atas memancing atau mempengaruhi keadaan dan reaksi psikologis dan fisiologis seseorang. Kata membakar sering berkaitan dengan api. Kata membakar dalam makna sebenarnya berarti (1) menghanguskan (menyalakan, merusakkan) dengan api; (2) memanggang (memanaskan) supaya masak (KBBI, 2014: 121). Namun dalam konteks kalimat di atas membakar dikaitkan dengan emosi. Sehingga kalimat di atas bermakna konotatif.

c.       Aspek Ekonomi Kunjungan Raja oleh A Tonny Pra-setiantono 03/03/ 2017.

Hal paling menarik dari perekonomian terkini Arab Saudi adalah mereka sedang terpukul oleh runtuhnya harga minyak, lalu “banting setir” menjalankan reformasi yang struktural.

Pada kalimat di atas mengandung makna konotatif. Frasa banting setir yang menjadikan kalimat tersebut bermakna konotatif. Banting setir disini berarti meninggalkan kebiasaan. Sehingga mengalami pergeseran dari makna sebenarnya yakni banting setir berarti memutar kemudi dengan mendadak. Oleh karena itu, jelas sekali kalimat tersebut bermakna konotatif.

d.      Aspek Ekonomi Kunjungan Raja oleh A Tonny Pra-setiantono 03/03/ 2017.

Karena itu, kunjungan Raja Salman ke Indonesia bisa diibaratkan sebagai “sambil menyelam minum air”.

Pada kalimat di atas mengandung makna konotatif. Makna konotatif pada konteks kalimat tersebut ditunjukkan oleh kata diibratkan dan frasa sambil menyelam minum air. Kata diibaratkan memiliki makna (1) perkataan atau cerita yang dipakai sebagai perumpamaan (perbandingan, lambang, kiasan); (2) isi (maksud, ajaran); (3) seumpama. Frasa sambil menyelam minum air pada konteks kalimat tersebut berarti dapat melakukan lebih dari satu pekerjaan dalam waktu yang sama. Sehingga kalimat tersebut bermakna konotatif karena terdapat unsur kias di dalamnya.

C.    Identifikasi Wujud Wacana pada Pidato

Berikut akan dipaparkan identifikasi bentuk atau wujud dari wacana yang diambil pada pidato Ahok di Kepulauan Seribu dengan tujuan pada identifikasi ini yaitu mengidentifikasi 3 bagian yaitu dari segi pemakaian kata pada pidato Ahok, lalu komponen wacana kritis, dan identifikasi implikatur pada pidato Ahok di Kepulauan Seribu yang diperoleh dari media youtube. Berikut uraiannya:

 

1.      Identifikasi Wujud Pemakaian Kata

Pidato Ahok di Kepulauan Seribu banyak menggunakan kata ganti orang (pronomina). Pronomina yang muncul adalah kata ganti orang petama tunggal (saya), kata ganti orang pertama jamak (kita dan kami). Dapat dilihat dalam data di bawah ini:

1)      Saya, kalau ke pulau seribu, saya ingat kampung saya. Makanya, waktu saya turun, saya lihat pak lurah, saya panggil pak kades, karena tahunya kades”.

Kata ganti pertama tunggal sangat banyak dipakai oleh Ahok.Kata ganti orang pertama tunggal tersebut mengacu pada pembicara itu sendiri, yaitu Ahok. Pemakaian kata ganti orang pertama tunggal “saya” mengindikasikan bahwa Ahok menonjolkan diri atau menunjukan eksistensinya sebagai gubernur, yang dalam hal ini gubernur memiliki kapasitas di atas kepala desa atau lurah. Inilah yang disebutkan oleh Norton (1997) sebagai identitas sosial (social identity). Dalam ranah kajian dan analisis wacana kritis, bahwa penggunaan kata “saya” menunjukan hubungan kekuasaan dan dominasi Ahok sebagai sebagai kepala daerah yang tentu levelnya jauh di atas kades maupun lurah.

2)      “Seluruh dunia sudah berbicara budi daya dan kita dikaruniai tempat yang begitu luas”.

Kata ganti “kita menunjukan bahwa Ahok ingin mengajak atau melibatkan pendengar yang ada di kepulauan seribu. Kata kitaditunjukan sebagai persamaan rasa memiliki, yaitu sama-sama memiliki kepulauan seribu. Artinya Ahok, dalam hal ini, ingin melibatkan diri bahwa dia juga merasa dikaruniai, sehingga dalam teks ini ahok ingin melibatkan dirinya bersama pendengar.

3)       “…kami akan bagikan ke koperasi, kami gak ambil uang tapi sekarang gak bisa karena kami gak tau siapa..”

Jika pada penggalan data pertama, Ahok lebih menonjolkan dirinya sebagai gubernur, namun pada penggalan ketiga ini, Ahok melibatkan dirinya dengan anggota DPR, DPRD, Bupati, Kepala Dinas dan lurah. Kata ‘kami’ menunjukan bahwa Ahok beserta jajaranya terlibat atau Ahok melibatkan para jajaranya dalam pidato yang disampaikan. Ini menunjukan bahwa ada keterlibatan aspek kekuasaan yang dimunculkan oleh ahok, di mana ada ketidak setaraan antara jajaran pemerintah dengan para masyarakat (audiences).

2.      Identifikasi Wujud Komponen Wacana Kritis

Pidato yang dikemukakan seseorang biasanya dapat dianalisis dalam bentuk analisis wacana kritis. Wacana kritis merupakan suatu upaya penyelidikan yang dilakukan menggunakan analisis penggunaan bahasa dalam suatu kejadian (Jorgensen & Phillips dalam Arif Bulan, 2018 : 52). Kejadian-kejadian ini bersifat komunikatif yang berfungsi sebagai bentuk praktik sosial melalui hubungannya dengan tatanan wacananya. Kejadian komunikatif dan tatanan wacana ini berkaitan dengan penggunaan bahasa dan digunakan dalam bidang sosial (Fairclough dalam Arif Bulan, 2018 : 52).

Fairclough (dalam Arif Bulan, 2018 : 55) mengemukakan bahwa  komponen yang membentuk dalam analisis wacana kritis pada pidato ada tiga bagian, yaitu struktur sosial (kelas, status, usia, identitas, suku, dan ras), budaya, dan penggunaan bahasa.

a.       Struktur Sosial

Halliday (dalam Santoso, 2018 : 5-6) berpendapat bahwa struktur sosial biasanya hadir dalam bentuk-bentuk interaksi semiotis dan menjadi nyata melalui keganjilan dan kekacauan dalam sistem sistematis. Struktur sosial ini biasanya juga tampak muncul adanya fenomena kekaburan dalam bahasa. Kekaburan bahasa ini merupakan bagian dari ekspresi dinamis dan tegangan sistem sosial. Kekaburan bahasa ini dipilih sebagai bentuk mewujudkan ketaksaan, pertentangan, kebencian, dan ketidaksamaan.

b.      Budaya

Komponen budaya digunakan untuk menginformasikan melalui suatu bahasa. Seorang penutur dapat mengkodekan pengalaman kulturalnya dan pengalaman individu tertentu (Halliday dalam Santoso, 2018 : 5). Konteks budaya juga saling berhubungan dengan konsteks sosial. Kedua konteks ini saling menyatu sama lain, baik dalam pembetukannya maupun dalam suatu pemahamannya.

c.       Penggunaan Bahasa

Penggunaan bahasa ini digunakan dalam menganalisis fenomena komunikasi yang penuh dengan kesenjangan, yaitu adanya ketidaksetaraan relasi antarpartisipan. Penggunaan bahasa ini juga memberikan landasan yang kokoh untuk menganalisis suatu kejadian yang nyata, misalnya dalam politik, media massa, komunikasi multicultural, iklan, perang, dan relasi gender. Penggunaan bahasa memunculkan hasil yang bersifat alamiah. Penggunaan bahasa juga diangap sebgai asumsi-asumsi sebuah kebenaran yang tanpa pembuktian serta mempercayai pengetahuan umum. Kata-kata seperti pandangan dunia, teori, hipotesis, atau ideology dianggap sebagai akal sehat. Fowler (dalam Santoso, 2018 : 7-8) berpendapat bahwa semua kata-kata itu adalah distorsi. Kata-kata merupakan sebuah interpretasi atau representasi dari pada sebuah refleksi. Implikasi dari penggunaan bahasa ini membuat masyarakat menjadi begitu percaya bahwa teorinya tentang cara kerja dunia adalah refleksi alamiah, bukan sebagai refleksi buatan.

Berikut adalah contoh dari penggalan pidato Ahok.

“Nah waktu saya jadi Bupati, saya memimpikan, itu budidaya, karena manusia ini, makin lama makin banyak.”

Kalimat di atas merupakan bahwa Ahok sedang menceritakan masa lalunya ketika masih menjabat sebagai Bupati. Kalimat tersebut memunculkan struktur sosial. Penggunaan bahasa Ahok berpidato seperti pada kalimat tersebut, berusaha menunjukkan status dan kelas sosialnya.

3.      Identifikasi Wujud Implikatur

Implikatur merupakan ungkapan yang memiliki makna yang berbeda dengan makna yang  tersirat. Penggalan pidato Ahok dalam data menggunakan kalimat yang mengandung makna tersirat berupa implikatur.

Saya  selalu  tegaskan  sama  bapak  ibu  juga  jangan  juga terpengaruh, ini urusannya dengan Pilkada ya, saya mau ingatin, kalo ada yang  lebih baik dari saya, kerja  lebih benar dari saya, dia lebih  jujur dari saya, bapak  ibu  jangan pilih saya bapak ibu kalau pilih saya bapak ibu bodoh, masa kalo punya duit beli motor Jepang beli motor cina, mau nggak? Harganya sama beli motor Jepang atau beli motor Cina gua tanya? Motor Jepang dong, jadi kalo ada yang lebih bagus dari saya  lebih baik dari saya, jangan pilih  saya  jadi  gubernur  bapak ibu, pilih  dia.  Silakan  tanding,  jika ada yang lebih baik dari saya, terbukti lebih baik dari saya jangan pilih saya bapak ibu, sangat fair!.”

Makna yang tersirat dari penggalan wacana data diatas , yaitu bahwa sebenarnya Ahok  berharap para  pendengar  memilih  Ahok  saat  Pemilukada,  namun  frasa ‘pilihlah saya’ tidak diungkapkan oleh Ahok. Ahok lebih memilih beberapa kata yang memang menuju pada apa yang sebenarnya harapan dan keinginannya. Implikatur dari tuturan tersebut yakni diharapkan  pendengar  pidato tersebut memaknai apa yang dimaksud oleh Ahok. Dalam konteks tersebut Ahok tidak mengatakan ‘pilih saya karena saya lebih baik’, dia sangat memahami bahwa konteks saat itu bukanlah momen kampanye, namun hanyalah momen kunjungan kerja. Itulah yang melatarbelakangi bahwa penggalan wacana dalam data tersebut adalah wacana implikatur karena termuat keinginan  tersirat dari pembicara.

 

D.    Identifikasi Wujud Wacana pada Teks Berita                                                                        

Berikut ini akan dipaparkan indentifikasi atau bentuk dari teks berita yang diambil pada teks berita criminal pembunuhan dan penganiayaan yang terdiri dari 2 yakni struktur makro dan superstruktur. Untuk struktur makro menjelaskan tentang topic atau tema berita, untuk superstruktur menjelaskan tentang judul da nisi dari berita tersebut beriku penjelasan tentang  identifikasi bentuk wacana pada teks berita sebagai berikut:

Berita Kriminal Kategori Pembunuhan dan Penganiyaan

1.      Struktur Makro (Tema/Topic)

(Polisi Cari Pembunuh Sartika), “Polres Rokan Hilir melakukan operasi yang kian intensif, dalam mencari pelaku pembunuhan terhadap Sartika”.

Dari kutipan diatas, melalui elemen tema digambarkan bahwa dalam rangka pencarian pembunuh Sartika, jajaran Polres Rokan Hilir bekerja secara maksimal, dari kalimat “Polres Rokan Hilir melakukan operasib 87 yang kian intensif dalam mencari pelaku pembunuhan Sartika”. Kalimat yang “kian intensif”, mengartikan bahwa adanya upaya kerjakeras yang dilakukan oleh jajaran kepolisian. Hal ini menunjukkan bahwa keinginan wartawan/penulis memaparkan kesigapan pihak kepoilisian dalam hal ini Polsek Rokan Hilir.

 (“OknumPolisi Aniaya Penjaga Warnet”), Oknum polisi tidak mau membayar biaya tagihan warnet senilai Rp. 83 ribu, lalu oknum polisi tersebut menganiaya Sahabinu seorang penjaga wanet.

Dari kutipan diatas, melalui elemen tema digambarkan bahwa telah ada laporan kepada pihak kepolisian tentang oknum polisi yang menganiaya penjaga warnet, “Orang yang mengaku Habibi, oknum polisi Polres Taluk Kuantan” Dari elemn tema menggambarkan dengan jelas bahwa adanya penjelasan pelaku penganiyaan yang dilakukan oeleh orang yang berprofesi sebagai polisi. Hal itu jelas ideiologi penulis/wartawan dalam menyembunyikan ideologinya yang berpihak kepada korban dalam hal ini Sahabinu dan menyudutkan pelaku penganiaya.

“Petani Kebun Dibacok, Kepalanya Pecah”, Muin dibunuh Orang Tak Kenal (OTK), dengan pecah dikepalanya akibat dibacok benda tajam oleh pelaku.

Dari kutipan diatas, penulis / wartawan melalui elemn topic menjelaskan kejadian pembunuhan sadis yang dilakukan oleh OTK. 88 Dengan menjelaskan kondisi korban “Mu’in di bacok kepalanya hingga pecah”. Hal itu terlihat bahwa ideology penulis yang disampaikan lewar elemn tema dengan menggambarkan kejadian pembunuhan sadis.

“Terdakwa mengaku dapat tekanan dan pukulan saat diperiksa), Eri Setiawan mengaku mendapat tekanan dan pukulan saat dilakukan penyidikan oleh tim penyidik polisi.”

Dari kutipan diatas, menggambarkan bahwa terjadi diskriminasi terhadap terdakwa saat dilakukan pemeriksaan oleh tim penyelidik polisi. Hal iu terlihat jelas bahwa penyembunyian ideology yang sampaikan lewat elemen topic/tema berpihak kepada korban dalam hal ini Eri Stiawan.

2.      Superstruktur

a.       Judul Berita

“Polisi Cari Pembunuh Sartika”

Dari kutipan judul berita diatas, dapat dilihat bahwa penulisan judul dengan menggunakan kalimat aktif “polisi” diletak sebagai pelaku pencarian pembunuh. Penulisan seperti ini benar disana menggambarkan bahwa ada upaya intensif yang dialkukan polisi dalam mencari pembunuh sartika. Hal tersebut menggambarkan bahwa ideology penulis/ wartawan yang berpihak kepada pihak kepolisian.

b.      Lead Berita

“Pasca Terungkapnya identitas korban pembunuhan bernama Sartika Silalahi (21), yang manyatnya ditemukan pada senin 89 (25/7) lalu diareal perkebunan Afdeling VIII, Blok U-37 Kepenghuluan Bagan Manunggal, Kecamatan Bagan Sinembah pihak polsek kian intensif mencari pembunuh dan apa motif dibalik pembunuhan keji itu.”

Dari kutipan diatas, melalui elemen lead penulis / wartawan memasukkan opini dengan memberikan semantic dengan kalimat “kian intensif”. Kalimat ini mengartikan bahwa ada upaya maksimal yang dilakukan oleh kepolisian dalam mencari pembunuh Sartika. Hal itu jelas terlihat ideology penulis/ wartwan yang berpihak kepada kepolisian.

E.     Identifiksi Wujud Wacana pada Film

Berikut ini akan dijelaskan cara mengidentifikasi wujud wacana film “The Iron Lady” ditinjau dari Keterbungkaman Perempuan, Eksistensi Perempuan, dan Representasi Perempuan:

1.      Keterbungkaman Perempuan

Masalah subordinasi wanita dan dominasi patriarki sejalan dengan sebuah teori mengenai terbungkamnya sebuah kelompok karena ada kuasa yang lebih dominan yang datang dari kelompok  lain. Teori ini disebut sebagai the muted group theory. Teori ini berfokus pada keberadaan kelompok  minoritas atau subordinat sebagai kelompok  yang terbungkam atau terbisukan, yang tak dapat menyuarakan kepentingan karena disepelekan bahkan dianggap tidak ada. Kelompok ini merasa tak punya kuasa sebab kekuasaan dipegang oleh kelompok yang dominan. Di tengah dominasi kelompok yang berkuasa kelompok ini memilih untuk diam atau bungkam, sehingga mereka menjadi kelompok yang terabaikan dan tak terlihat.

Keterbatasan bahasa tidak hanya membatasi wanita dalam mengeluarkan pendapat dari pemikirannya,tetapi juga secara tidak adil justru direpresentasikan menurut perspektif laki-laki.  Shirley Ardener (West & Turner, 2010) menyatakan bahwa kebisuan wanita adalah akibat dari ketulian telinga laki-laki. Meskipun wanita berbicara, tetap saja perkataannya membentur telinga yang tuli. Hal itu mengakibatkan wanita akhirnya menyerah dan mulai berhenti untuk menyuarakan suara mereka, bahkan mulai berhenti juga untuk berpikir bahwa mereka memiliki hak pasti untuk mengeluarkan pendapat.

Menurut Kramarae (West & Turner, 2010:481), ada tiga asumsi penting dalam teori Muted Group ini. Pertama, wanita merasa bahwa dunia mereka berbeda dengan laki-laki karena dasar pengalaman dan aktivitas pekerjaan yang berbeda. Kedua, dominasi politik laki-laki membuat sistem persepsi laki-laki pun dianggap dominan, sehingga menghalangi kebebasan berpekspresi wanita. Ketiga, dalam keikutsertaannya berpartisipasi di masyarakat wanita kemudian harus bertransformasi model atau gayanya sendiri dan menukarnya dengan sistem berekspresi laki-laki.

Pembisuan terhadap wanita tidak hanya melalui kekuatan perkataan, tetapi juga dengan cara membentuk dan mengontrol pembicaraan pihak lawan. Pembisuan ini akan terus terjadi dalam lingkungan sosial selama ada pihak yang berkuasa penuh, dan ada pihak yang tidak punya kuasa apapun. Pembisuan ini terwujud dalam berbagai bentuk. Contoh yang paling jelas adalah ritual setelah menikah: wanita akan cenderung memakai nama suaminya sebagai identitasnya yang baru. Dominasi pria sepertinya menjadi hal yang sulitditembus. Akhirnya wanita berusaha memahami laki-laki sebagai individu dan kemudian membandingkannya dengan dirinya sendiri, sehingga ia dapat membuat identifikasi sempurna atasnya. Ia mengerjakan rencana-rencananya dan merawat yang dimilikinya dengan cara yang tidak dapat ditiru oleh laki-laki. Ia bekerja menurut caranya dan dengan gayanya sendiri.

2.      Eksistensi Perempuan

Dalam semua segi wanita harus menjadi seperti laki-laki, berkompetisi layaknya laki-laki, melakukan apapun yang layak dilakukan laki-laki, dan berpikir seperti laki-laki. Namun demi didengar dan tidak lagi terbungkam, para wanita harus terlebih dahulu mengalah untuk menang. Dalam artian sebagai others, wanita harus mengubah dirinya sesuai dengan keinginan ”kelompok” selfs; menjadi others sesempurna yang diinginkan oleh self. Sehingga dengan demikian wanita lambat laun berproses menjadi self. Wanita menjadi bukan lagi sosok yang dipandang sebelah mata, tetapi bertransformasi menjadi sosok yang begitu digandrungi dan dibutuhkan oleh semua pihak.

Dalam proses menuju transendensi, menurut Beauvoir (Tong, 2006:274), ada tiga strategi yang dapat dilakukan oleh wanita. Pertama, wanita harus bekerja. Tentu saja Beauvoir sendiri menyadari bahwa bekerja dalam kapitalisme yang patriarkal bersifat opresif dan eksploitatif. Namun betapapun kerasnya dan melelahkannya pekerjaan wanita, hal tersebut akan memberikan kesempatan dan kemungkinan bagi wanita, yang jika tidak dilakukan, mereka akan kehilangan kesempatan itu sama sekali. Dengan bekerja di luar rumah bersama laki-laki, maka wanita dapat merebut kembali transendensinya. Wanita akan secara konkret menegaskan statusnya sebagai subjek, sebagai seorang yang secara aktif menentukan arah nasibnya. Kedua, wanita dapat menjadi seorang intelektual. Kegiatan intelektual adalah kegiatan ketika seseorang berpikir, melihat, dan mendefinisi, bukan sebaliknya. Ketiga, wanita dapat bekerja untuk mencapai transformasi sosialis masyarakat. Salah satu kunci bagi pembebasan perempuan adalah kekuatan ekonomi, suatu poin yang ditekankan Beauvoir dalam setiap diskusi mengenai perempuan mandiri. Lingkungan tentu saja akan membatasi usaha mereka untuk mendefinisikan diri. Maka jika wanita ingin mewujudkan semua yang diinginkannnya, ia harus menciptakan masyarakat yang akan menyediakan dukungan material untuk mentransendensikan batasan yang melingkarinya sekarang.

Wanita yang beremansipasi adalah wanita yang ingin aktif dan bertanggungjawab akan sesuatu, serta menolak pasivitas yang biasa ditekankan laki-laki padanya. Mereka akan menempatkan tubuh di atas semangat, dan kebijaksanaan di atas ketegasan. Wanita modern lebih kompromis demi mengejar transformasi menjadi self. Mereka menerima nilai-nilai maskulin, bangga akan dirinya sendiri untuk berpikir, mengambil tindakan, bekerja, dan mencipta dalam term yang sama dengan laki- laki. Daripada berusaha mengatakan sesuatu yang menyatakan bahwa mereka mempunyai nilai penting yang kecil, wanita justru mendeklarasikan dirinya sebagai sosok yang patut diperhitungkan.

Thatcher kemudian mengubah penampilannya demi mendapatkan pengakuan akan kemampuan politisnya, akan kecerdasannya memikirkan dan memutuskan strategi-strategi  kenegaraan. Salah satu hal yang juga dia perlihatkan ketika mengundang Menteri luar Negeri USA untuk datang dan membicarakan tentang persekutuan untuk “Falkland Island” di Argentina. Ketika menteri luar negeri itu datang, ia disambut secara baikdan hangat. Sebelum memastikan bahwa menteri tersebut berada di pihaknya, Thatcher mempersuasinya dengan perkataan:“Let your mother, care about you.” Dalam teks tersebut Thatcher menyiratkan maksud bahwa apapun yang terjadi nanti, jika USA mau berada di pihak Inggris Raya, kehidupan mereka akan tenteram, tidak kekurangan apapun, karena ibunyalah yang memikirkan sekaligus menjalankan strateginya.

Wanita yang berdandan–berpenampilan baik termasuk dalam kategori berdandan–adalah wanita yang sedang berusaha untuk mendapatkan pengakuan yang absolut terhadap kecantikan, keanggunan, cita rasa, dan dirinya sendiri sebagai manusia yang utuh (Beauvoir, 2004). Meskipun memang tidak dapat dipungkiri bahwa kehidupan masyarakat yang menuntutnya memamerkan yang dia miliki baik secara fisik maupun secara psikis. Wanita tahu persis bahwa ketika ia diperhatikan, ia tidak akan dianggap terpisah dari penampilannya. Ia dinilai, dihormati, dan diinginkan melalui penampilannya. Wanita harus selalu menjaga kerapihannya karena masyarakat tidak memaafkan kecerobohan melekat pada dirinya.

Menurut Beauvoir (2004), wanita intelektual mengetahui bahwa ia tengah menawarkan dirinya, ia mengetahui bahwa ia adalah makhluk yang sadar, sebuah subjek. Wanita intelektual akan mencoba semua cara dengan lebih keras karena ia takut gagal. Wanita intelektual (Beauvoir, 2004), segera setelah ia merasa gelisah, ia menjadi jengkel dengan kerendahannya, ia ingin melakukan pembalasan dengan turut bermain dengan senjata maskulin. Ia berbicara, bukan mendengar, ia menunjukkan pikiran-pikiran yang tajam, ia melawan laki-laki, bukan lagi berdamai dengan mereka. Ia mencoba mendapatkan yang terbaik dari laki-laki untuk memperoleh kemenangan yang mengagumkan.

Wanita yang patut diperhitungkan, yang dipandang sebagai diri, sebagai seseorang adalah wanita yang mampu menjadi superwoman. Ia tidak hanya berhasil dan menang dalam pergumulannya di lingkungan kerja, tetapi juga berhasil menjadi seorang ratu di rumah tangganya, di lingkungan keluarganya. Kaum laki-laki sudah mulai menyerahkan dirinya pada status baru yang dimiliki oleh perempuan (Beauvoir, 2004). Perempuan yang bekerja justru memegang kukuh dan lebih menunjukkan rasa bangga akan feminitasnya. Perempuan yang bekerja justru semakin memancarkan pesonanya. Perempuan yang mandiri, yang memiliki otonomi secara finansial menjadi sosok yang kemudian memiliki hak-hak istimewa, sama seperti akses dan hak-hak yang dimiliki oleh laki-laki. Keberhasilan ini telah menunjukkan kemajuan atas proses transformasi perempuan dari other menjadi self.

Setiap wanita harus menggariskan kehidupannya sendiri. Situasi hukum, politik, ekonomi, sosial, dan budaya menghambat wanita. Namun tidak satupun dari penghambat itu yang dapat memenjarakan wanita secara total. Menurut Carol Ascher (Tong, 2006:282), “manusia membuat keputusan untuk melepaskan diri dari atau bertahan dengan harus menghadapi tingkat hambatan yang berbeda-beda. Pada kondisi tertentu tidak ada keputusan positif yang mungkin diambil, meskipun demikian, keputusan tetap diambil, dan setiap individu harus bertanggung jawab atas keputusan tersebut.”

3.      Representasi Perempuan

Representasi menunjuk pada bagaimana seseorang, satu kelompok, gagasan atau pendapat tertentu ditampilkan dalam pemberitaan. Ada dua hal penting dalam representasi. Pertama, apakah seseorang, kelompok, atau gagasan tersebut ditampilkan sebagaimana mestinya. Ini mengacu pada apakah seseorang atau kelompok itu diberitakan apa adanya, ataukah diburukkan. Penggambaran yang tampil bisa jadi adalah penggambaran yang buruk dan cenderung memarjinalkan seseorang atau kelompok tertentu. Di sini hanya citra yang buruk saja yang ditampilkan sementara citra atau sisi yang baik luput dari pemberitaan. Kedua, bagaimana representasi tersebut ditampilkan. Dengan kata lain, kalimat, aksentuasi, dan bantuan foto macam apa seseorang, kelompok, atau gagasan tersebut ditampilkan dalam pemberitaan kepada khalayak.

Persoalan utama dalam representasi adalah bagaimana realitas atau objek tersebut  ditampilkan. Menurut John Fiske (Surwati, 2012) paling tidak ada tiga proses dalam menampilkan objek, peristiwa, gagasan, kelompok, atau seseorang. Pada level pertama adalah peristiwa yang ditandai sebagai realitas. Dalam bahasa gambar ini umumnya berhubungan dengan aspek seperti pakaian, lingkungan, ucapan, dan ekspresi. Pada level kedua, ketika seseorang memandang sesuatu sebagai realitas dan bagaimana realitas itu digambarkan. Yang digunakan disini adalah perangkat secara teknis, misalnya kata atau kalimat. Ini membawa makna tertentu ketika diterima oleh khalayak. Pada level ketiga, bagaimana peristiwa tersebut diorganisasikan ke dalam konvensi-konvensi yang diterima secara ideologis dan bagaimana kode-kode representasi dihubungakan dan diorganisasikan ke dalam koherensi sosial seperti kelas sosial, atau kepercayaan dominan yang ada dalam masyarakat.

Dari film “The Iron Lady”, Thatcher menyatakan suara dan pendapat-pendapatnya dengan banyak kiasan. Dia mengubah penampilannya sedemikian rupa untuk menunjukkan kelasnya. Gaun bermotif houndstooth, potongan rambut dengan set di bawah telinga, dan perhiasan mutiara (signifier), merepresentasikan wanita kelas atas dan intelektual Inggris (signified).

F.     Identifikasi Wujud Wacana pada Novel

Nurgiyantoro mengemukakan bahwa novel sebagai sebuah karya fiksi menawarkan sebuah dunia yang berisi model kehidupan yang diidealkan, dunia imajinatif yang dibangun melalui berbagai unsur intrinsiknya seperti peristiwa, plot, tokoh dan penokohan, latar, dan suddut pandang yang kesemuanya bersifat imajinatif, walaupun semua yang direalisasikan pengarang sengaja dianalogilan dengan dunia nyata tampak seperti sungguh ada dan benar terjadi, hal ini terlihat sistem koherensinya sendiri. Menurut Tarigan kata novel berasal dari kata latin novelius yang pula diturunkan pada kata noveis yang berarti baru. Dikatakan baru karena kalau dibandingkan dengan jenis-jenis karya sastra lain seperti puisi, drama, dan lain-lain maka jenis novel ini muncul kemudian (Yanti, 2015). Novel dapat dijadikan sebagai analisis wacana.

Berikut ini anaisis wacana pada novel Negeri Para Bedebah karya Tere Liye yang ditinjau dari dimensi teks, dimensi praktis kewacanaan, dan dimensi praktis sisiokultural.

1.      Dimensi Teks

Novel Negeri Para Bedebah karya Tere Liye yang ditinjau dari dimensi teks yaitu:

Aku melompat, tanganku bergerak cepat hendak memukul Randy sekalian menguji apakah sarung tinjuku sudah sempurna mencengkeram. “Dasar bedebah! Ternyata kau yang sengaja menghambatku di loket imigrasi.”(NPB, 2012:28)

Kata bedebah pada novel Negeri Para Bedebah karya Tere Liye menurut KBBI memiliki arti celaka (sebagai makian). Bedebah pada novel ini memiliki hubungan makna ideologis dengan pejabat pemerintahan yang memiliki kekuasaan dan wewenangnya dengan tujuan sengaja menggunakannya. Kekuasaan dan wewenang yang dimiliki oleh pejabat pemerintahan ini tidak digunakan untu kepentingan bersama melainkan dengan kepentingan pribadi atau golongannya sendiri. Hal ini dapat dilihat pada teks novel sebagai berikut:

“Baiklah, jika ini yang ingin kau ketahui. Aku tidak akan menutupinya.” Aku meremas rambut, setengah sebal menatapnya. “Om Liem melanggar banyak regulasi, itu benar. Dia ambisius, memanfaatkan banyak koneksi untuk memuluskan bisnisnya, dan begitu banyak kejahatan lainnya, itu benar. Dia jelas bedebah. Tapi aku baru semalam menyadari ada yang keliru dengan penutupan Bank Semesta. Ada bedebah yang lebih jahat lagi di luar sana. Om Liem sudah berjanji akan mengganti seluruh uang nasabah, tidak akan mengunyah satu perak pun uang mereka. (NPB, 2012:109)

Pada teks novel di atas dapat terlihat penggunaan kekuasaan dan wewenang untuk kepentingan sendiri yaitu, bahwa para pejabat pemerintahan ingin menutup bank semesta. Bank semesta merupakan bank yang dikelola oleh om Liem. Om Liem salah dalam mengelola bank semesta karena om Liem menggunakan kekuasaan itu dengan tujuan agar dekat dengan para pejabat tersebut, tetapi disisi lain om Liem sebagai korban para pejabat pemerintahan demi keuntungan pribadi maupun golongan para pejabat tersebut. sehingga hal tersebut mendorong Thomas untuk menyelamatkan bank semesta untuk sebuah harga diri.

2.      Dimensi Praktis Kewacanaan

Novel Negeri Para Bedebah karya Tere Liye dapat ditinjau dari dimensi praktis kewacanaan yaitu:

“Jika itu terjadi, jika Bank Semesta akhirnya diselamatkan komite stabilitas sistem keuangan nasional, itu jelas akan menjadi skandal perbankan terbesar di negeri ini. Semua pihak, terutama media massa, LSM, lembaga, individu yang masih memiliki integritas akan menuntut dilakukan penyelidikan, diusut tuntas. Nah, sebelum itu terjadi, kita harus menyumpal sebanyak mungkin pihak terkait. Pejabat pemerintah, partai politik, petinggi institusi, kroni, teman, kolega, bahkan bila perlu pengurus organisasi olahraga, apapun itu. Semakin banyak yang menerima kucuran uang haram itu, maka jangankan melakukan penyelidikan secara sistematis dan besar-besaran, menggerakkan satu pion petugas penyidik saja mereka tidak kuasa. Seluruh penjara di negeri ini penuh dengan komisi pemberantasan korupsi berani mengutak-atik kasus penyelamatan Bank Semesta. (NPB, 2012: 255-256)

Teks novel di atas bertujuan memberitahu para pembaca bahwa dunia politik pada negeri ini sangat menjijikkan, memalukan dan memuakkan. Bagi masyarakat Indonesia sendiri tidak ada kebanggan untuk dunia politik di negerinya sendiri. Pada teks novel di atas juga menggunakan kalimat yang sangat mudah dipahami oleh para pembaca sehingga memberikan ruang gerak pandangan masyarakat untuk membenci pejabat pemerintahan, partai politik, petinggi institusi, dan rakyat yang hidup menderita sebagai pengurus organisasi politik yang hidup dalam kekuasaan.

 

3.      Dimensi Praktis Sosikultural

Novel Negeri Para Pedebah Karya Tere Liye ditinjau dari dimensi praktis sosikultural adalah:

...Aku melintasi meja imigrasi dengan mudah. Namaku dicekal, tapi aku kenal anak buah Randy yang menjaga loket-salah satu anggota klub petarung lainnya yang menjadi petinggi imigrasi bandara. Bahkan dua hari lalu aku juga berniat melarikan Om Liem ke luar negeri, tapi berubah pikiran, kembali turun dari pesawat..... (NPB, 2012: 403)......Pidato petinggi partai di podium semakin hebat. Dia sedang semangat membahas visi kebangsaan, cita-cita partai segaris lurus dengan cita-cita pendiri negara. Peserta konvensi tampaknya semakin meneriakkan kata “Merdeka” di setiap akhir kalimat petinggi partai... (NPB, 2012: 327-328)...Opini tentang penyelamatan Bank Semesta sudah ramai disebut-sebut oleh pengamat dan wartawan di berbagai media massa. Pertemuan dengan petinggi Bank Semesta dan lembaga penjamin simpanan sudah kulakukan. Audiensi dengan menteri sekaligus ketua komite stabilitas sistem keuangan sudah terjadi, bahkan pion terakhir, putra mahkota, sudah kuletakkan di atas papan permainan... (NPB, 2012: 388-389)

Pada teks novel di atas para petinggi seenaknya sendiri memberikan keputusan penting tanpa bukti dan fakta-fakta yang telah terjadi. Dan para nasabah bank tidak diberikan kompensasi sesuai dengan peraturan yang telah dituliskan. Para nasabah yang baik dianggap lemah dan para petinggi pemerintah, politik, dan institusi menipu rakyat melalui penjaminan simpanan. Rakyat dan om Liem hanya bisa pasrah ketika para petinggi marah.

G.    Identifikasi Wujud Wacana pada Cerpen (Cerita Pendek)

Berikut ini akan dijelaskan cara mengidentifikasi wujud wacana cerpen “Tinggal Matanya Berkedip-Kedip” karya Ahmad Tohari ditinjau dari analisis situasi, sosial budaya, serta penanda kohesi gramatikal dan leksikal.

  1. Analisis Situasi

Si Cepon adalah seekor kerbau yang gagah perkasa dan telah banyak berjasa sebagai pembajak sawah. Namun, belakangan binatang itu menjadi binal dan jalang sehingga ayah si ”aku” (pencerita) merasa pusing karena tidak dapat membajak sawahnya. Oleh karena itu, sang ayah meminta bantuan pawang yaitu Musgepuk yang sudah dikenal pandai menjinakkan kerbau jalang. Namun, usaha Musgepuk mengalami kegagalan karena Musgepuk hanya behasil merobohkan si Cepon. Dengan robohnya si Cepon itu mengisyaratkan kegagalan Musgepuk sebagai pawang yang sering bangga dengan keahliannya.

Dari aspek situasi tokoh utama, yaitu si Cepon akhirnya roboh. Robohnya si Cepon justru menyebabkan hancurnya kewibawaan Musgepuk sebagai pawang binatang peliharaan. Musgepuk yang terlalu membanggakan kepiawaiannya menjinakkan bintang peliharaan menjadi tidak berdaya di hadapan si Cepon yang justru tidak melakukan perlawanan apa pun.

  1. Analisis Sosial Budaya

Cerpen ”Tinggal Matanya Bekedip-kedip” berlatar budaya masyarakat Jawa, terutama masyarakat Jawa dari kelas sosial masyarakat bawah. Penanda dari kelas sosial masyarakat bawah adalah nama tokoh-tokohnya yang dihadirkan pengarang seperti si Cepon dan Musgepuk. Dalam konteks ini pengarang menempatkan si Cepon sebagai wakil dari tokoh yang tidak berdaya menghadapi kekuasaan tokoh yang memiliki ”power”, yaitu Musgepuk. Si Cepon dapat dikatakan sebagai simbol dari ”wong cilik” yang tidak memiliki keberdayaan dan kekuatan untuk melawan orang yang memiliki kekuasan dan kekuatan. Dalam cerpen ini pengarang menceritakan suatu kondisi sosial masyarakat kita, terutama masyarakat kecil yang selalu terpinggirkan. Melalui simbol yang diberikan Ahmad Tohari melalui cerpen ”Tinggal Matanya Berkedip-kedip”, ia ingin mengingatkan bahwa kekuasan dan kekuatan seorang pemimpin sebenarnya ditunjang oleh kekuatan ”wong cilik”. Tanpa adanya dukungan masyarakat, kekuatan seorarng pemimpin tidak ada apa-apanya. Kekuatan dan kekuasaan seorang pemimpin akan mudah runtuh saat tidak ada lagi didukung dari masyarakatnya.

Musgepuk yang mahir dalam menjinakkan segala macam hewan ternak, tetapi memliki sifat yang sombong akhirnya kehilangan segalanya ketika si Cepon sama sekali tidak mereaksi segala perintahnya. Ia kehilangan kewibawaannya saat ia tidak dapat mengembalikan fungsi si Cepon sebagai pembajak sawah di hadapan tokoh ayah dan tokoh aku.

  1.  Analisis Penanda Kohesi Gramatikal

Analisis pada aspek wacana gramatikal dalam wacana meliputi: pengacuan, penyulihan, pelepasan, dan kunjungsi. Berikut pemaparan aspek gramatikal dalam cerpen “Tinggal Matanya Berkedip-kedip”.

1)      Pengacuan

a.       Pengacuan Persona

”Musgepuk bersungut-sungut. Dan uring-uringan. Semangatnya rontok. Aku, meskipun belum lama sunat, bisa mengerti perasaannya”.

Pada cuplikan tersebut  terdapat pengacuan persona pertama tunggal bentuk bebas aku yang mengacu pada si anak pemilik kerbau yang bernama Cepon.

b.      Pengacuan Demonstratif

Pengacuan demonstratif dapat dibedakan menjadi tiga yakni pronomina demonstratif penunjuk, pronomina demonstratif waktu (temporal), dan pronomina demonstratif tempat (lokasional). Demonstratif penunjuk misalnya, kata ini dan itu. Demonstratif waktu terdiri atas waktu sekarang, lampau, akan datang, dan waktu netral. Demonstratif tempat terdiri dari tempat dekat, agak dekat, dan jauh.

“Tidak seperti pada tahun-tahun yang lalu, musim penghujan kali ini ayah dibuat pusing oleh si Cepon”.

Pada cuplikan data tersebut  terdapat penanda demonstratif temporal waktu lampau yaitu frase yang lalu.

c.       Komparatif

Komparatif adalah membandingkan dua hal atau lebih yang mempunyai kemiripan atau kesamaan dari segi bentuk/wujud, sikap, sifat, watak, perilaku, dll.

“Kepalanya seperti terpaku mati pada leher. Seakan dia telah mendapat pelajaran bahwa sedikit saja kepalanya bergerak berarti tali kaluh akan menggesek luka pada sekat lubang hidungnya”.

Pada cuplikan data tersebut  satuan lingual seperti membandingkan kepala si Cepon yang sulit untuk digerakkan karena ada tali kaluh yng menggesek pada sekat lubang hidung Cepon. Kata seperti diperkuat pada baris berikutnya dengan kata seakan yang menjelaskan kalimat yang sama.

2)       Penyulihan/ Substitusi

a.       Substitusi Nomina

“kami tidak menyangka akhirnya si Cepon, kerbau kami, rubuh di tengah sawah yang hendak dibajak”

Pada cuplikan data tersebut satuan lingual si Cepon digantikan dengan satuan lingual Karbau kami.

b.      Substitusi Kalimat

“Terdengar suara-suara mendesis pertanda miris. Tetapi suara itu membuat Musgepuk makin bertingkah”.

Pada cuplikan data tersebut satuan lingual kata itu menggantikan suara-suara mendesisi pertanda miris.

3)      Pelepasan

Pada cerpen “Tinggal Matanya Bekedip-kedip” umumnya pelepasan berupa kata seperti pada contoh data berikut:

“Kami tidak menyangka akhirnya si Cepon, kerbau kami rubuh d tengah sawah yang hendak dibajak”. (Benar-benar rubuh tak berdaya).

Pada cuplikan data tersebut terdapat pelepasan satuan lingual berupa kata si Cepon, kalimat itu sebelumnya di lepasan berbentuk: Kami tidak menyangka akhirnya si Cepon, kerbau kami rubuh di tengah sawah yang hendak dibajak. Si Cepon benar-benar rubuh tak berdaya.

4)      Konjungsi

Pada cerpen “Tinggal Matanya Berkedip-kedip” terdapat konjungsi seperti pada data dibawah ini.

“Roman muka si Cepon, terutama matanya, bahkan ternyata bisa menunjukkan sikap pasrah total”

Konjungsi pada cuplikan tersebut menegaskan bahwa roman muka si Cepon, terutama matanya ternyata bisa menunjukkan sikap pasrah total.

4.      Analisis Leksikal

Aspek leksikal adalah hubungan antarunsur dalam wacana secara semantis. Dalam analisis ini hanya dibahas mengenai repetisi dan sinonim. Berikut ini adalah pemaparan aspek-aspek leksikal yang dijumpai dalam cerpen ”Tinggal Matanya Berkedipkedip”.

1)      Repetisi

Repetisi adalah perulangan satuan lingual yang dianggap penting untuk memberikan tekanan dalam sebuah konteks yang sesuai  (Wijaya, 2013).

Pada cerpen “Tinggal Matanya Berkedip-kedip” terdapat repetisi seperti pada data dibawah ini :

(1)Aku seorang diri telah berhasil telah menankap si Cepon dan merebahkannya. Seorang diri”.

Pada cuplikan data tersebut terdapat repetisi anafora. Repetisi anafora  (Qudus, 2013) yaitu pengulangan kata/frasa pertama pada baris berikutnya. Repetisi ini berfungsi untuk menekankan pentingnya makna kata/frasa yang diulang pada tiap baris tuturan tersebut. Pada frasa “seorang diri” pada kalimat pertama diulang kembali pada frasa pertama kalimat kedua. Pada tuturan diatas, repetisi anafora dimanfaatkan untuk menyampaikan dan meyakinkan bahwa si tokoh “aku” telah berhasil menangkap Cepon seorang diri tanpa bantuan dari orang lain.

(2) “Tetes darah makin sering meluncur dari hidung kerbau kami membuat rona merah di atas lumpur melebar dan melebar”.

Pada data (2) di atas terdapat repetisi epizeukis. Repitisi Epizeuksis adalah perulagan satuan lingual atau kata yang di pentingkan berapa kali secara berturut-turut  (Wijaya, 2013). Pengulangan tersebut terdapat pada kata “melebar” yang digunakan untuk memberi tekanan atau penegasan pada kalimat sebelum dan sesudahnya, bahwa darah yang keluar dari hidung kerbau telah bercucuran di atas lumpur sangat banyak.

2)      Sinonim

Sinonim digunakan untuk menjalin hubungan makna yang sepadan antara satuan lingual lain dalam wacana.

(1)   Musgepuk, seorang laki-laki yang kuat  dan bermuka kukuh sudah dikenal sebagai pawang bagi segala macam ternak yang dipelihara para petani.

Pada data (1) di atas terdapat sinonim pada kata kuat dan kukuh. Pada penggalan kalimat di atas, kedua kata tersebut digunakan untuk menegaskan bahwa Musgepuk merupakan seseorang yang banyak tenaga, tidak mudah dikalahkan dan mampu menjadi pawang bagi segala macam ternak.

 

DAFTAR PUSTAKA

Qudus, R. (2013). Analisis Kohesi Leksikal Dalam Novel Dom Sumurup Ingbanyu Karya Suparto Brata. Jurnal Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa_Universitas Muhammadiyah Purworejo , 86-90.

Wijaya, H. (2013). Analisis Wacana Lirik Lagu “Wasiat Renungan Masa” Karya Tgkh. M. Zainuddin Abdul Majid Tinjauan Kontekstual Dan Situasi Serta Aspekgramatikal Dan Leksikal. Jurnal EducatiO , 76.

Liye, T. (2012). Negeri Para Bedebah. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Yanti, C. S. (2015). Religiositas Islam dalam Novel Ratu yang Bersujud Karya Amrizal Mochamad Mahdavi. Jurnal Humanika , 3.

Wahyuningtyas, B. P. (2014). REPRESENTASI KEKUATAN, KECERDASAN, DAN CITA RASA PEREMPUAN: ANALISIS WACANA PADA FILM "THE IRON LADY". HUMANIORA, Vol. 5 (1), hal. 32-37.

Arif Bulan, K. (2018). Analisis Wacana Kritis pada Pidato Ahok di Kepulauan Seribu. Transformatika: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya, 51-57.

Sari, N. K. (2020). Analisis Framming Pemberitaan Pidato Menteri Nadiem Makarim Pada Peringatan Hari Guru Nasional. Jurnal Dinamika Pemerintahan, 12-22.

Aisah, I Wayan Pastika, & I.G.N.K Putrayasa.(2017). Kohesi dan koherensi paragraf pada  tribun news dalam jaringan (Daring). Jurnal Humanis: Vol. 20, No . Agustus 2017

Sholikhati, I.N., dan Mardikantoro, B.H.(2017). Analisis tekstual dalam konstruksi wacana berita korupsi di metro tv dan net dalam perspektif analisis wacana kritis norman fairclough.Seloka.Vol 6 No 2 (2017): Agustus 2017

Eriyanto. (2011). Analisis Wacana: Pengantar Analisis Teks Media . Yogyakarta: PT. LKiS Printing Cemerlang.

Sumadiria, H. (2007). Menulis Artikel dan Tajuk Rencana. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.

Triandy, R. (2017). Pembelajaran Mengidentifikasi Ide Pokok Dalam Artikel Dengan Metode Inquiry pada Siswa Kelas X SMA Pasundan 2 Bandung. Literasi.

Oktasari, A. F. (2015). Analisis Wacana dalam Surat Kabar Jawa Pos Kolom Opini, Jati Diri. Jurnal Interaksi, Vol. 10, No. 1, 27.

Rahmatu, H. A. (n.d.). Kohesi Dalam Wacana Opini Media Tadulako. 1-15.

Riska Kusumawati, D. S. (2017). Makna Interpersonal Teks Opini Kasus Basuki Tjahja Purnama (Ahok) Dalam Kolom Opini Harian Kompas dan Repubika . Jurnal Keilmuan Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya, Vol. 3, No. 2, 123-134.

Siti Rohmawati, F. S. (2014). Kohesi Leksikal Kolom "Opini" oleh Aswandi dalam Surat Kabar Pontianak Post Edisi Juli-Desember 2013. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Khatulistiwa, Vol. 3, No. 8, 8.

 

 

  

No comments:

Post a Comment

  Alamat Blog :   IDENTIFIKASI WUJUD WACANA PADA MEDIA TULIS DAN AUDIO VISUAL AINUN ...